Ekspedisi Putri Punan Semeriot 2016

September 24, 2016 in Studi Lapangan Anggota

Tim Ekspedisi Lawalata IPB bersama masyarakat adat Dayak Punan Semeriot

Tim Ekspedisi Lawalata IPB bersama masyarakat adat Dayak Punan Semeriot

Kalimantan Utara, 14 Agustus 2016. Tim Ekspedisi Putri Punan Semeriot telah selesai melakukan ekspedisi di Kalimantan Utara setelah 21 hari berkegiatan. Kegiatan dilakukan dengan tujuan melakukan studi tentang masyarakat adat Punan Semeriot dan kaitannya dengan burung Rangkong. Masyarakat adat Punan Semeriot adalah salah satu suku dayak yang berada di hulu Sungai Sekatak. Kaitannya dengan burung Rangkong adalah bahwa mereka pantang untuk memburu maupun memakan daging burung Rangkong.

Terdapat delapan jenis burung Rangkong (kengkareng, enggang) di Pulau Kalimantan dari tiga belas jenis yang tersebar di Indonesia. Kedelapan jenis itu  yaitu Enggang Jambul, Julang Jambul Hitam, Julang Emas, Kengkareng Hitam, Kengkareng Perut Putih, Rangkong Badak, dan Rangkong Gading. Berdasarkan data IUCN Red List (2015), ada satu jenis yang statusnya Critically Endangered atau sangat terancam punah yaitu Rangkong Gading. Maraknya perburuan dan konversi lahan menjadi fokus utama penyebab berkurangnya jumlah populasi burung rangkong di Kalimantan.

Sesuai dengan namanya, Ekspedisi Putri Punan Semeriot dilakukan oleh 8 orang anggota tim yang seluruhnya adalah perempuan. Meskipun  begitu, hal ini tidak menyurutklan langkah tim untuk terus berkegiatan dengan membawa nama besar Lawalata IPB. Selanjutnya tim akan menyelesaikan laporan hasil kegiatan berupa laporan ilmiah, foto, video, dan buku yang akan menjadi bukti pertanggung jawaban tim kepada beberapa pihak termasuk Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara.

 

Oleh : Lestari ( Anggota Muda )

Lawalata IPB Raih Penghargaan Terbaik 1 Wana Lestari 2016

Agustus 17, 2016 in Berita Utama

Selasa, 16/08/2016.  Lawalata IPB berhasil menjadi Pecinta Alam Terbaik (Juara 1) dalam Lomba Wana Lestari sebagai Kelompok Pecinta Alam yang telah berjasa dalam upaya pelestarian/ konservasi sumberdaya alam di Indonesia.

Piagam Penghargaan Wana Lestari 2016 kategori KPA

Piagam Penghargaan Wana Lestari 2016 kategori KPA

Ketua umum Lawalata IPB Kasrizal mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya keluarga besar Lawalata IPB dan kampus IPB serta semua pihak atas dukungan mengikuti lomba ini. Perjuangan yang cukup melelahkan karena lomba ini dilaksanakan berjenjang, mulai dari tingkat Kabupaten, Provinsi hingga Nasional. “Ini adalah apresiasi untuk semua yang telah dilakukan dan kami kerjakan selama ini. Semoga kemenangan ini terus memotivasi seluruh masyarakat khususnya Pecinta Alam di Indonesia untuk bertindak lebih banyak dan lebih baik terhadap lingkungan” ucap Kasrizal.

Proses seleksi Lomba Wana Lestari kategori Kelompok Pecinta Alam dimulai dari bulan Mei 2016. Awal seleksi berupa pengumpulan berkas, lalu pengecekan berkas secara langsung di Sekretariat Lawalata IPB. Aspek yang menjadi penilaian yaitu tata kelola organisasi dan administrasi, aktivitas organisasi, prestasi yang pernah dicapai dan kelompok binaan organisasi.

Dokumen yang dicek oleh Direktorat Jenderal PHKA (Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam) selaku panitia kategori ini antara lain kelengkapan AD/ART Lawalata IPB, laporan dokumentasi kegiatan yang berhubungan dengan pemanfaatan SDA, publikasi kegiatan dalam bentuk seminar/ workshop dan buku Anggota. Lawalata juga tercatat di salah satu instansi kehutanan di Bogor yang menjadi syarat khusus peserta. Syarat lainnya yaitu kegiatan yang telah dilakukan Lawalata IPB dinilai sebagai upaya penting dalam konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya serta kegiatan lingkungan tersebut tidak merupakan proyek/kegiatan yang didanai pemerintah (swadaya, swadana) dalam 5 tahun terakhir.

Setelah mendapatkan juara 1 tingkat Kabupaten Bogor, Lawalata kembali mengikuti seleksi untuk tingkat Provinsi Jawa Barat pada Juli 2016. Setelah diverifikasi kembali, diumumkan bahwa Lawalata mendapat juara 1 tingkat provinsi sehingga berhak mewakili Provinsi Jawa Barat di tingkat Nasional. Pada tingkat nasional, berkas-berkas yang telah dikumpulkan berupa laporan dan dokumentasi kegiatan dinilai oleh tim juri independen. Hingga puncaknya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menobatkan Lawalata IPB sebagai Terbaik I kategori Kelompok Pecinta Alam pada acara Sarasehan Peserta Temu Karya Nasional Pemenang Lomba Wana Lestari 2016 di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta.

Sekilas Tentang Lawalata IPB

Perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam Lawalata IPB berdiri sejak 21 September 1974. Lawalata merupakan organisasi kemahasiswaan IPB yang memiliki visi berperan aktif dalam mewujudkan gerakan lingkungan hidup secara partisipatif, kooperatif, dan berkelanjutan mulai dari hal-hal kecil dan nyata sesuai dengan perkembangan persoalan lingkungan sekitar maupun lingkungan yang lebih luas.

Setiap tahunnya, Lawalata IPB rutin melakukan riset yang dinamakan Studi Lapangan Anggota atau biasa disebut Ekspedisi. Selain publikasi dalam bentuk seminar nasional, ekspedisi juga menghasilkan luaran produk (output) dalam bentuk laporan ilmiah, video lingkungan dan penulisan buku populer.

Ekspedisi Lawalata IPB dalam 5 tahun terakhir yaitu Ekspedisi Siberut (2012) dengan kajian Inventarisasi Simakobu (Simias concolor) dan masyarakat adat Kepulauan Mentawai, Ekspedisi Manupeu Tanah Daru (2013) yang mengkaji Kakaktua dan Ekspedisi Tanah Borneo (2014) mengkaji pendataan potensi karst dan endokarst di Karst Sangkulirang sebagai pertimbangan warisan dunia.

Pada tahun 2015, Lawalata IPB mengkaji Walabi (Macropus agilis) sebagai kekayaan fauna dan pengaruhnya terhadap kearifan lokal masyarakat di Taman Nasional Wasur, Papua. Bahkan yang baru saja dilaksanakan pada 25 Juli – 14 Agustus 2016 yaitu Ekspedisi Putri Punan Semeriot yang mengkaji kearifan lokal masyarakat suku Dayak terhadap Rangkong (Bucerotidae).

 

Selamat Jalan, Ganif ‘Parcok’ Parmunaryono

Agustus 9, 2016 in Berita Utama, Opini

“Disela-sela rapat di Palangkaraya saya shock mendapat kabar bahwa @Ganif Parcok telah meninggal. Satu lagi senior, sahabat dan guru saya dalam berorganisasi meninggalkan dunia ini.

Sebelumnya telah pergi alm Hapsoro. Lalu alm Pitra Widianwari. Merekalah tempat saya belajar dan berdiskusi hingga saya menemukan jati diri saya. Sejak saya menjadi mahasiswa dan anggota Lawalata IPB hingga keluar dari kampus. Mereka tidak pernah bosan mengayomi anak muda seperti saya. Ternyata dunia berputar begitu cepat!

Selamat jalan Bang Parcok. Saya akan selalu rindu senyum dan tawa khasmu. Dandanan yang menggunakan celana jeans belel, berkemeja dan berkalung rantai. Tidak ada lagi yang menyampaikan “Saya menunggu kesimpulannya saja. Kami ini para kopral” disaat rapat ataupun diskusi.

Selamat jalan bang. Semoga amal ibadahmu dan kebaikanmu selama diterima di sisi Allah SWT. Amien…” – Een Irawan Putra/L-241

 

“Bang Parcok pernah dulu itu ngobrol sama aku dan mungkin beberapa kawan lain, di LATIN waktu itu. Bercerita tentan pengalamannnya di LAwalata dan kawan-kawannya, bagaimana perjuangan menjadi mahasiswa rantau jaman dulu samapi menggadaikan jeans segala, dan kekonyolan jaman mudanya. Hingga kemudian masa kini, saat semua kawan telah menjadi orang hebat, aku ingat nama Bang Abdon disebutnya, persahabatan akan selalu sama. Kita tidak usah melihat sejauh mana hidup telah merubah kita dan teman-teman kita dulu hina mungkin jauh berbeda karena yang slelau sama adalah persahabatan kita di masa mudabersama L. Be proud of yourself, no matter who you are now. (Kenangan paling berkesanku ngobrol sama Bang Parcok) – Sudiyah Istiqomah/L-262

 

“Bang Parcok mah humble pisan, murah senyum lagi” – Desy Leo A/L-302

 

“Sahabat setia yan tak terlukakan Parcok Ganif. Uenak berkerja bersama sahabat yang tak kenal lelah. Selamat jalan sahabat setia yang tidak bisa dilupakan” Saburo/L-130

 

“Pertama saya kenal sama Bang Parcok bisa langsung akrab dan ketawa-tawa. Beliau bener-bener ramah dan asik, bijak dan petuahnya ngena banget. Beliau adalah senior yang walaupun jaraknya jauh tapi bisa membuat kita merasa dekat.

Semoga segala amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT. Selamat jalan abangku” – Lasti Fardilla/L-309

 

“Beliau itu… adalah salah satu alasan gue di lawalata. karena waktu itu gue pikir menyenangkan sekali membayangkan akan punya senior baik banget kayak dia. Dia selalu menyelipkan obrolan-obrolan bahasa jawa yang membuat gue semakin kerasan ngobrol lama.

Kalo anak-anak Lawalata lagi ada acara, dia akan mengamati dari pinggir sambul santai dan senyam senyum mendamaikan.

Beliau sangat peduli, beberapa kali ke lapangan dengan beliau, jadi makin jatuh hati sama beliau. He was a very nice, humble, kind, etc, etc, etc….. too many goodness in him to be mention.” – Willis

 

selamat jalan bang parcok

Selamat Jalan, Ganif ‘Parcok’. 25 November 1963 – 8 Agustus 2016

Beliau akan dimakamkan tanggal 9 Agustus 2016, pukul 09.00 WIB di Pemakaman Pemda, Cimahpar,  Bogor. Jalan Rd. Koyong, Cimahpar.

 

Selamat Jalan Ganif ‘Parcok’ Parmunaryono. Doa para sahabat tidak pernah putus sama seperti segala kebaikan dan nilai-nilai hidup yang para sahabat rasakan dari beliau. Sampai bertemu di kehidupan berikutnya. Salam dari Keluarga Besar LAWALATA-IPB.

Lawalata IPB mengikuti Konferensi WSEN 2016 di Inggris

Juli 30, 2016 in Berita Utama

 

Peserta WSEN 2016

Peserta WSEN 2016 berfoto bersama

 

Jumat 29 Juli,2016. Kasrizal ketua umum pecinta alam LAWALATA IPB mewakili IPB dalam Konferensi World Student Evironmental Network 2016 yang di selenggarakan oleh Keele University dan Sussex University di  Inggris. Kasrizal mempresentasikan sebuah film berjudul Local Wisdom in Kasepuhan Ciptagelar. Film Ini menceritakan bagaimana sistem peralatan atau teknologi pertanian, sehingga masyarakat Ciptagelar memiliki kemandirian pangan sejak 600 tahun lalu hingga sekarang.

 

Kasrizal selesai mempresentasikan karya film berjudul Local Wisdom in Kasepuhan Ciptagelar

Kasrizal selesai mempresentasikan karya film berjudul Local Wisdom in Kasepuhan Ciptagelar

 

Kegiatan ini berlangsung 23 -31 Juli di ikuti sekitar 96 mahasiswa yang merupakan perwakilan dari berbagai universitas di seluruh dunia. Konferensi ini merupakan pertemuan untuk bertukar pengalaman, menciptakan ide – ide baru dan memperluas perspektif peserta dalam lingkungan multidisiplin dan multikultural tersebut. Rizal menuturkan bahwa “Indonesia memiliki kearifan lokal dalam pengelolaan pertanian. Kita harus menunjukan pada dunia sehingga ini dapat menjadi model bagi masyarakat lain di dunia untuk mewujudkan kemandirian pangan”

World Student Evironmental Network ( WSEN 2016) adalah jaringan mahasiswa dunia pada bidang Lingkungan yang setiap tahun dilaksanakan. Tujuan dibentuknya jaringan ini adalah fokus pada aspek lingkungan keberlanjutan terutama pada Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim. WSEN juga mempunyai prinsip yaitu “Diversity is our strength, difference is our goal, youth is our mojo, happiness is our purpose, and sustainability is our path”. Dengan partisipasi IPB mengikuti konferensi ini, semakin membawa harum kampus IPB menuju World Class University.

Oleh : Fikrunnia Adi Prasojo ( L-371 )

Open Recruitment Lawalata IPB 2016-2017

Juli 13, 2016 in Berita Utama, Lain lain

[Telah Dibuka] OR Lawalata IPB!

Lawalata IPB adalah salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa yang berada didalam naungan Institut Pertanian Bogor. Lawalata IPB didirikan pada tahun 1974 sebagai upaya untuk mewadahi mahasiswa IPB dan alumni Lawalata bersama-sama dalam mengekspresikan jiwa yang bebas berpetualangan, jujur, disiplin, dan tangguh, suatu nilai yang identik dengan alam itu sendiri yang selalu bertindak mengikuti nurani, serta terus menerus mencari jalan untuk mengalahkan diri sendiri dengan berpegang teguh pada prinsip tidak akan menyakiti alam beserta isinya dan berusaha mempertahankan perbedaan karakter setiap anggota dengan menyadari bahwa setiap makhluk hidup memiliki keunikannya masing-masing.

Ingin jadi bagian dari Keluarga Besar LAWALATA IPB??

Yuk Join Lawalata!!

Caranya dengan mengisi form online disini ini :

Dan jangan lupa untuk lengkapi persyaratan yang ada!

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Juli 5, 2016 in Berita Utama

IMG-20160625-WA0002Satukan tangan

Satukan hati

Itulah indahnya silaturahmi

Di hari kemenangan

Marilah kita padukan

Keihklasan untuk saling memaafkan

Taqabbalallahu minna wa minkum

Shiyamana wa shiyamakum

Segenap keluarga besar Lawalata IPB mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H”

Simulasi Lapangan Ekspedisi Karst Gombong Selatan

Juni 30, 2016 in Berita Utama

       Mempraktekan apa yang kita pelajari lebih sulit dari pada hanya mendengarkan seseorang menjelaskan suatu materi. Tetapi dari hasil prakteklah kita dapat mengetahui apa yang kita terima benar atau salah dan kitapun tau evaluasinya.

IMG-20160630-WA0026

Anggota tim Ekspedisi Karst Gombong Selatang (4/5)

       Minggu, 26 juni 2016, Tim Ekspedisi Karst Gombong Selatan kembali melakukan simulasi yang kedua kalinya untuk mempraktekkan apa yang telah didapat dalam materi kelas. Praktek kali ini dilakukan selama tiga hari dari tanggal 26-28 Juni 2016 di daerah sirnaresmi dan tanjung sari kecamatan Gunung guruh dan Jampang Tengah kabupaten sukabumi. Tim melakukan penelusuran dua gua yang ada disana, yaitu Gua Sibibijilan dan Gua Legok Picung. Selain penelusuran, Tim xpdc juga melakukan pendataan biota gua, mengukur debit air sungai bawah tanah dan mengambil sampling air. Hal ini dilakukan karena kajian yang akan Tim lakukan di karst gombong sama seperti yang dilakukan pada praktek kali ini.

IMG-20160630-WA0030

Tampak depan pintu masuk Gua Sibibijilan

 

IMG-20160630-WA0027 - Copy

Gua Sibibijilan

IMG-20160630-WA0020

Proses mengukur debit air

IMG-20160630-WA0024 - Copy

Gua Legok Picung

         Karakteristik gua Sibibijian dan gua Legok Picung keduanya memang memiliki sungai bawah tanah. Setelah dilakukan pengukuran debit, gua Sibibijilan memiliki debit air 137,48 liter/detik dan gua Legok Picung 5,95 liter/detik. Air di gua Sibibijilan di manfaatkan oleh warga sekitar untuk mengairi pertanian karena alirannya keluar mengalir membentuk sungai ke arah sawah dan pemukiman warga. Gua Legok Picung juga memiliki sungai bawah tanah. Menurut kang Fauzi yang mengetahui gua Legok Picung, aliran air didalam gua Legok Picung saat ini terbilang kecil debitnya. Menurutnya hal itu dikarenakan daerah disekitarnya dekat dengan tambang kapur. “Dulu sebelum ditambang, aliran air di gua Legok Picung sangat deras” kata Kang Fauzi.

           Daerah Gunung Guha kecamatan Gunung Guruh Kab. Sukabumi memang sudah di eksploitasi dengan adanya tambang batu gamping. Ditambah lagi adanya pabrik semen jawa yang lokasi sangat dengan dengan pagar rumah warga. Banyak warga yang meresahkan keberadaan pabrik semen tersebut dikarenakan warga sendiri sudah terkena dampaknya secara langsung. Hadirnya pabrik semen dan tambang batu gamping pun memberi ancaman kawasan karst disekitarnya. Termasuk mengancam tandon air masyarakat desa sirnaresmi, tanjung sari dan sekitarnya. Dalam Permen ESDM no 17 th 2012 disebutkan bahwa ciri kawasan karst salah satunya memiliki mata air, sungai bawah tanah dan gua. Kemudian mengapa kawasan tersebut masih di eksploitasi? Apakah ketidaktahuan dan tidak adanya data-data gua dan sungai bawah tanah di dalamnya membuat mudah memberikan izin untuk di eksploitasi?

          Terimakasih kami ucapkan kepada FWSM (Forum Warga Sirnaresmi Melawan), Pak Eman, Kang Fauzi yang sudah membantu Tim xpdc dalam kegiatan simulasi ekspedisi karst gombong selatan. Semoga kegiatan ini dapat menjadi manfaat bagi semua.

-Aziz Syah

Caves Expedition of Indonesia 2016

Juni 21, 2016 in Berita Utama, Ekspedisi Lawalata

Caves Expedition of Indonesia

Caves Expedition of Indonesia

Tahun ini LAWALATA IPB kembali hadir dengan ekspedisi caving atau penelusuran gua yang menjadi Program Kerja dari Kepengurusan L-IPB tahun 2015-2016.

Ekspedisi ini berjudul Caves Expedition of Indonesia dengan tajuk “Menelusuri potensi kekayaan gua-gua di Indonesia sebagai langkah awal mempopulerkan Scientific Adventure”. 

Ekspedisi ini akan mengambil tempat di dua lokasi, yaitu Karst Gombong Selatan, Jawa Tengah dan Kepulauan Aru, Maluku. Kedua lokasi ini dipilih karena keduanya memiliki keunikan dan hal-hal menariknya masing-masing.

Karst Gombong Selatan kini sedang ramai diperbincangkan. Awalnya Karst Gombong direncanakan akan berdiri pabrik semen PT. Semen Gombong. Berdasarkan status, Karst Gombong sudah ditetapkan sebagai Kawasan benatang Alam Karst Gombong berdasar Kepmen ESDM 3873K/40/MEM/2014 dengan luas 40,98 km2. Namun demikian, penetapan KBAK Gombong tidak menjamin dan tidak memperhatikan perlindungan terhadap ekosistem esensial karst sebagai penyangga kehidupan di sekitar kawasan karst. Beberapa mata air dan gua yang penting tidak termasuk dalam KBAK Gombong sehingga tidak ada jaminan kelangsungan karst Gombong.

Rencana pendirian pabrik semen dan penambangan batu gamping mengancam keberadaan mata air yang sangat penting untuk masyarakat seperti Banyumudal dan Kali Sirah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, menunjukan sistem sungai bawah tanah dari Gua Pucung ke Gua Candi dan berakhir di Kali Sirah mengalir di dalam kawasan IUP PT. Semen Gembong. Meskipun mulut Gua Pucung berada di luar IUP namun sungai bawah tanah berada di luar KBAK Gombong yang semestinya dimasukkan dalam kawasan lindung geologi sesuai dengan kriteria Permen ESDM 17/2012 dan tidak dimanfaatkan untuk kawasan pertambangan. (Sumber: caves.or.id )

Nilai penting yang dimiliki oleh Karst Gombong Selatan ini membuat LAWALATA IPB, sebagai salah satu penggiat caving di Indonesia ingin ikut terlibat dalam penyelamatnnya. Ekspedisi ini diharapkan dapat memberikan informasi lebih banyak mengenai pentingnya kawasan ini.

Kepulauan Aru atau yang juga disebut JARGARIA oleh masyarakat lokal adalah daratan ekologi papua yang secara administrasi berada di Provinsi Maluku. Wilayah ini terdiri dari 187 pulau-pulau kecil dengan lima pulau yang relatif lebih besar yaitu Trangan, Kobror, Wokam, Maikor, dan Kola. Berdasarkan UU No. 27 tahun 2007, hanya satu pulau yaitu Pulau Trangan dengan luas 2300 km persegi yang termasuk dalam katerogi pulau besar, sisanya dikategorikan sebagai pulau-pulau kecil.

Kepulauan Aru bukanlah satu hamparan daratan utuh seperti halnya terlihat dalam peta. Faktanya wilayah tersebut terdiri dari pulau-pulau kecil yang dipisahkan oleh ratusan selat-selat kecil. Selat-selat kecil ini yang banyak disalahtafsirkan sebagai sungai, sehingga penataan ruang di wilayah tersebut mengabaikan kelestarian bentang geografis pulau.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Australian Univeristy menyebutkan bahwa hanya sebagian kecil dari Kepulauan Aru yang merupakan bentang alam karst. Kenyataannya, berdasarkan peta sebaran batu gamping di Provinsi Maluku, lebih dari 80% Kepulauan Aru adalah bentang alam karst.

Daratan Kepulauan Aru terbentuk dan muncul kepermukaan dari batuan karst berusia ribuan atau bahkan jutaan tahun lalu. 83% daratan di Kepulauan Aru masih merupakan hutan alam sebagai wilayah eksokarst. Hutan ini menjadi habitat bagi burung cendrawasih (bird of paradise) yang dikenal karena kecantikan dan keindahan tariannya. Burung ini banyak dijumpai di tanah Papua, namun faktanya dapat ditemukan di Kepulauan Aru.

Kepulauan Aru menyimpan bukti-bukti kehidupan peninggalan masa lampau. Benda-benda peninggalan prasejarah, masa kerajaan, dan masa peperangan dapat ditemukan di Kepulauan ini. Hal lain yang menarik ialah nilai-nilai kearifan yang masih dijaga masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam. Kearifan lokal masyarakat Aru dalam menjaga hutan tercermin dari terjaganya kelestarian hutan disana.

Kepulauan Aru memiliki banyak potensi lainnya yang menunggu untuk dieksplorasi. Semakin banyak kita mengetahui fakta-fakta mengenai Kepulauan Aru, semakin kita mengetahui pentingnya melindungi dan menjaga kelestariannya. Salah satunya adalah memetakan potensi yang dimiliki oleh Kepulauan Aru, khususnya memetakan potensi karst.

Belum banyak individu, LSM, lembaga penelitian, ataupun universitas yang sudah melakukan penelitian atau program di Kepulauan Aru.

Tidak adanya peneliti muda yang pernah melakukan ekspedisi khususnya terkait ekosistem endokarst membuat LAWALATA IPB menjadi peneliti muda pertama yang akan mengeksplorasi keindahan bawah tanah di Kepulauan Aru.

Hal ini juga menjadi penting karena tidak adanya informasi yang mampu menceritakan kondisi ekosistem endokarst di wilayah kepulauan tersebut.

Baca fakta menarik tentang Kepulauan Aru disini.