Gunung Kapur Cibodas: A Part of Karst Region from Bogor

December 9, 2010 in Desa Ciampea

Kawasan karst di Bogor meliputi kawasan karst Jagabaya di Parung Panjang, Cibodas (Ciampea) dan Cibinong. Karst Jagabaya yang berumur Miosen terdapat satu komplek goa wisata yaitu Goa Gudawang. Karst Cibodas di Ciampea merupakan batuan kapur dengan bukit kapur yang tinggi berumur Miosen. Sedangkan karst Cibinong berumur Pliosen Bawah dengan luasan sekitar 15 km2. Semua kawasan karst tersebut terancam aktifitas penambangan batu kapur oleh pabrik semen maupun penambangan kapur ilegal. Kawasan kapur Cibinong merupakan salah satu kawasan yang beroperasi dua pabrik semen yaitu Semen Cibinong dan Indocement.

Gn. Kapur Cibodas terletak di Desa Ciampea, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Secara administratif, sebelah utara berbatasan dengan Desa Ranca Bungur, Kecamatan Ranca Bungur, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Bojong Rangkas, Kecamatan Ciampea, sedangkan sebelah timurnya berbatasan dengan Desa Benteng, Kecamatan Ciampea. Berdasarkan data monografi Desa Ciampea tahun 2009, Desa Ciampea memiliki luas 4.030,5 Ha/m2 dengan jumlah penduduk 10.955 jiwa terdiri dari 2.749 KK dengan kepadatan penduduk 0.1/km2. Desa ini memiliki lahan pertanian seluas 349 Ha yang dimiliki oleh ±1000 kepala keluarga (KK).

Bukit Kampur Ciampea dilihat dari satelit (Google Earth)

Mayoritas penduduk Ciampea bekerja sebagai pedagang keliling dan petani, dimana petani tersebut menggarap lahan sendiri maupun orang lain yang berada di sekitar kawasan karst Ciampea. Para petani memanfaatkan lahan tersebut dengan menanam sayur-sayuran, padi huma, dan jagung  di sebagian kawasan karst milik PERHUTANI. Menurut Kepala Desa Ciampea, sebagian lahan tersebut ada yang di HGU-kan kepada kopasus untuk di tanami pohon jati. Warga sekitar hanya diperkenankan untuk berkebun dengan sistem tumpang sari di lahan tersebut, ujarnya.

Banyak hal yang terlewatkan dari pandangan kita semua meskipun dekat dengan lingkungan tempat tinggal kita. Mungkin saja yang terlewatkan itu sangat berharga eksistensinya baik dari perspektif fungsi ekologi maupun ragam ilmiah yang terkandung di dalamnya. Contoh saja kenampakan bentang alam Gunung Kapur Ciampea. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama Gunung Cibodas. Padahal Gunung Kapur Ciampea, terletak di sebelah barat kampus IPB. Namun belum banyak pihak yang mencoba mengeksplorasi apa manfaatnya bagi lingkungan sekitar kawasan, siapa kelompok penerima manfaat (beneficiary groups) dan siapa saja yang berperan dalam kelestariannya apalagi berpikir tentang potensi pengembangannya. Dari kenampakannya saja Gunung Kapur ini sangat menarik untuk dikunjungi khususnya bagi kaum inteklektual muda sangat menarik untuk dikaji. kawasan ini syarat nilai ilmiah dan bisa menjadi sumber pengembangan ilmu pengetahuan. Apalagi jika kawasan ini dijadikan sebagai salah satu lokasi field study mengingat IPB sebagai institusi pendidikan yang lebih banyak bermain di ranah pengelolaan sumberdaya alam. Sementara ini, hanya beberapa komunitas masyarakat yang mengetahui sejauhmana manfaat dan fungsi ekologi dari keberadaannya. contoh saja Lawalata IPB. sebagai organisasi pecinta alam, Lawalata IPB berkepentingan dengan eksistensi dan kelestarian kawasan ini baik dari sisi fungsi ekologi dan fungsi ilmiah yang ditawarkannya. Banyak hal yang ditemukan dari kawasan ini. Temuan (findings) dari kawasan ini sangat menarik diketahui khalayak umum sebagai bahan pertimbangan dan justifikasi obyektif pengelolaan serta upaya untuk tetap melestarikan eksistensinya. Dari hasil temuan yang ada, Lawalata IPB meyakini bahwa Gunung Kapur Ciampea memenuhi kriteria sebagai kawasan karst.

Karakteristik dan potensinya kawasan ini layak disebut sebagai kawasan karst. Kawasan ini memiliki keunikan dalam bentang alamnya dan fenomena endokarst serta mikrokarst yang terhampar di permukaan. Kenampakan geomorfologi kawasan gunung kapur ini menunjukkan proses uplift local (tektonik lokal). Kawasan ini juga masih menunjukan proses karstifikasi aktif hingga sekarang. Hal ini terlihat dari proses kartstifikasi terus berlangsung yang terjadi dalam sistem pergoaan (cave sistem) dalam kawasan ini, yang membentuk ornamen-ornamen goa (speleotem). Goa-goa di kawasana karst Gunung Cibodas Ciampea didominasi oleh goa-goa vertikal. Banyak diantaranya adalah goa Purba. Ada juga yang yang masih aktif, namun memiliki kedalaman yang cukup signifikan. Goa aktif ditandai oleh adanya aliran sungai bawah tanah di dalam lorong pergoaannya. Goa-goa di kawasan ini dihiasi ragam ornamen guo mulai dari goursdam, stalaktit, stalakmit, pilar, drapery, flowstone, dan kristal kalsit. kebanyakan goa-goa di kawasan ini telah dinamai oleh penduduk sekitar. goa-goa di kawasan ini diantaranya adalah goa Cigodawang, Cipeso, Ciwulung, Cimanggir, Cimushola, Cibiuk, Cipospat, Cipeso, dan lain-lainnya. Lawalata IPB mencoba mengkaji lebih dalam kawasan karst Ciampea beserta potensi-potensi yang ada.

Selain itu masih banyak potensi yang dimiliki kawasan karst Gunung Cibodas yang secara langsung atau tidak langsung telah membantu masyarakat untuk menjalankan atau memenuhi kebutuhan hidup mereka. Potensi itu antara lain adalah potensi hidrologi, biodiversiti, speleologi, arkeologi, bahkan potensi ekonomi (yang paling terlihat). Banyak nilai ekonomi yang bisa dihasilkan dari kawasan karst Gunung Cibodas. Masyarakat setempat memanfaatkannya, pertama sebagai lokasi penambangan kapur. Masyarakat melakukan penambangan dengan menggunakan alat yang sederhana. Dengan alat yang sederhana ini tentu saja penambangan hanya dalam skala kecil, tetapi kemudian muncul perusahaan-perusahaan tambang yang mengeksploitasi kapur dengan skala besar. Dalam hal ini mereka menggunakan dinamit dan alat berat untuk mengeruk batu kapur Gunung Cibodas ini.

Kedua, goa sebagai tempat ritual, perobatan hingga penangkaran burung walet. Goa-goa di kawasan karst Gunung Cibodas hampir secara keseluruhan berfungsi sebagai tempat tinggal bagi burung walet. Kondisi ini dimafaatkan oleh masyarakat untuk memanen sarang walet untuk dijual. Namun keberadaan walet di goa ini ternyata tidak bisa dinikmati oleh masyarakat sekitar dengan mudah. Ketidakmampuan masyarakat sekitar kawasan dalam memanen walet menjadikan jasa lingkungan yang bernilai ekonomis tinggi hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Sampai sekarang, goa-goa yang menghasilkan sarang burung walet hanya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu saja yang memiliki power (kekuasaan) dan akses sumberdaya untuk memanfaatkannya.

Ketiga, sebagai kawasan penyedia kayu bakar. Kayu bakar merupakan pilihan yang sering dipakai masyarakat selain  minyak tanah. Apalagi ketika ada kebijakan dari pemerintah untuk menkonversi minyak tanah ke gas, masyarakat Ciampea semakin banyak yang ke gunung untuk mencari kayu bakar.

 

Potensi kawasan

Kerajinan tangan dari kapur dan semen

Jasa lingkungan yang disediakan Gunung Cibodas ini meliputi potensi speleologi, hidrologi, rohani, bahkan ekonomi. Potensi speleologi disini meliputi goa-goa yang terdapat dalam kawasan yang sering digunakan para pecinta caving (penelusuran goa) untuk menelusuri goa-goa tersebut. Dari hasil penelususran tim caving Lawalata-IPB telah ditemukan ±15 Goa. Goa-goa di kawasan karst Gunung Cibodas hampir secara keseluruhan berfungsi sebagai tempat tinggal bagi burung walet. Kondisi ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memanen sarang walet untuk dijual. Namun keberadaan walet di goa ini ternyata tidak bisa dinikmati oleh masyarakat sekitar dengan mudah. Ketidakmampuan masyarakat sekitar kawasan dalam memanen walet menjadikan jasa lingkungan yang bernilai ekonomis tinggi hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Sampai sekarang, goa-goa yang menghasilkan sarang burung walet hanya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu saja yang memiliki power (kekuasaan) dan akses sumberdaya untuk memanfaatkannya. Pak Herman Supriyadi, salah satu ketua RT disana, menyatakan bahwa “Sebenarnya banyak goa-goa yang ada di gunung cibodas ini, biasanya dulu warga disini suka menemukan sarang walet didalamnya, lekas itu menjualnya”. Adapun beberapa goa yang mudah diakses oleh warga sering dijadikan tempat pertapaan/semedi utk menenangkan diri, salah satunya adalah goa mesjid.

Manfaat lain dari goa-goa tersebut adalah sebagian besar menjadi sumber air bawah tanah bagi warga. Menurut Ibu Badeh, sungai yang mengalir di sekitar rumahnya berasal dari Gunung kapur ini, entah dari gunungnya atau goa yang ada didalamnya. Namun, menurut hasil penelitian Tim Hidrologi Lawalata IPB air yang digunakan warga bersumber dari mata air bawah tanah Ciampea da  Di bagian lain sekitar kawasan, tepatnya Kampung Pedati Mondok, air yang digunakan warga adalah bersumber dari Gunung Kapur Cibodas ini. Selain digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, air ini digunakan untuk mengairi lahan perkebunan di sekitar kawasan. Namun, warga disana tidak memanfaatkan air ini untuk minum karena mereka takut air tersebut mengandung sulfur. Ibu Badeh melanjutkan, “air disini tidak untuk diminum, karena saya pernah memasaknya dan timbul endapan kuning, mungkin itu belerang yang terbawa. Jadi saya takut kalo minum dari air ini”.

Warga setempat juga memanfaatkan hasil hutan kayu, yaitu kayu bakar untuk digunakan sebagai bahan bakar rumah tangganya. Namun, hal ini dilakukan oleh minoritas warga terutama warga yang paling dekat dengan kawasan. Menurut mereka, menggunakan kayu lebih efisien dibanding kompor gas yang mahal. Selain itu, kawasan ini juga bermanfaat tidak untuk warga sekitar tapi sebagai habitat flora fauna owa jawa, burung kakatua, monyet ekor panjang, lutung, ular, kelelawar, burung walet dan berbagai jenis burung lainnya. Namun sekarang fauna-fauna tersebut banyak yang menghilang. Hanya tersisa monyet ekor panjang, kelelawar dan burung walet saja yang dapat dijumpai di kawasan tersebut. Potensi lain yang paling terlihat dari kawasan ini adalah batu kapur. Hal ini dimanfaatkan warga untuk dijadikan batu kapur siap pakai. Warga memanfaatkan potensi ini hanya dalam skala kecil dan peralatan yang sederhana. Namun, pernah timbul eksploitasi besar-besaran oleh sebuah perusahaan tambang batu kapur yang secara langsung mempengaruhi kegiatan warga ini. Salah satu pemilik penambangan batu kapur warga ini adalah Ibu Nirasih. Menurut beliau, dalam satu kali penambangan menghabiskan biaya Rp. 8.000.000,- dimana keuntungan yang dapat diperoleh bisa mencapai 3-4 juta rupiah/produksi/minggu. Kegiatan ini juga bermanfaat bagi warga sekitar yang memang tidak menggarap lahan kebun atau berdagang. Berikut adalah rincian biaya produksi dalam satu kali penambangan:

Tabel 1. Rincian biaya produksi penambangan batu kapur

Kegiatan produksi Biaya produksi (Rp) Satuan Total biaya (Rp)
Bahan bakar (ban bekas) 4.000 1500 6.000.000
Muat batu karang ke cubluk* 550.000 1 550.000
Memasukkan karang ke cubluk* 550.000 1 550.000
Bedol* 550.000 1 550.000
Goar* 550.000 1 550.000
Angkut hasil batu kapur ke mobil 60.000 12 720.000
Total biaya produksi (Rp) 8.920.000

 

 

 

 

 

*Keterangan (istilah yang sering dipakai masyarakat Desa Ciampea):

-       Cubluk : Pabrik (tradisional) pembakaran kapur

-       Bedol : Proses mengeluarkan kapur dari tempat pembakaran

-       Goar : Proses mengaduk hasil pembakaran

Dari rincian diatas, dapat dilihat bahwa Gunung Cibodas ini memberikan manfaat ekonomi yang sangat jelas terlihat. Manfaat lain dari segi ekonomi juga dilihat dari hasil berdagang warga di sekitar kampung pedati mondok. Disana, ada satu tempat yang digunakan para TNI untuk berlatih, warga disana menyebutnya lapangan tempak 100 dan 300. Disana, warga memanfaatkan hal ini dengan berdagang jajanan kecil yang memang cukup memberikan keuntungan.

Kearifan Lokal

Keuntungan yang diperoleh warga setempat tentunya menjanjikan sebuah keberlangsungan kehidupan. Warga setempat yang memanfaatkan potensi kawasan ini tentunya juga tidak ingin kehilangan keuntungan yang didapatnya selama ini. Untuk itu, dengan sistem kepercayaan dan kebudayaan yang berkembang di desa ini menjadikan kawasan tersebut cukup bisa bertahan sampai sekarang, walaupun sempat terjadi eksploitasi besar-besaran yang mengganggu keseimbangan ekosistem disana.

Salah satunya adalah adanya padepokan Sri Asih yang saat ini dipimpin oleh A’ Indra yang merupakan putra langsung dari Ibu Neneng dan keluarga – pendiri padepokan Sri Asih-. Padepokan tersebut turut membantu melestarikan kawasan dengan mengembangkan kesenian dan sebagian mitos yang berkembang disana. Mitos-mitos ini mempengaruhi perilaku warga dalam memanfaatkan potensi kawasan. Salah satunya adalah jika para penambang kapur harus mengikuti waktu kapan dilarang tidak boleh menambang, selain itu juga menambang kapur hanya diperbolehkan menggunakan peralatan sederhana. “Mitos ini sangat mempengaruhi warga, buktinya adalah saat ini warga tidak sembarangan mengambil kayu bakar dan batu kapur”, tutur A’ indra. Pak Deden, pengambil batu karang, juga menambahkan bahwa untuk mengambil batu karang ini jangan hari selasa karena hari itu dilarang untuk mengambil batu karang. Pada saat wawancara ini, secara kebetulan ada seorang warga yang sedang membersihkan diri di sungai kemudian dia berlari sambil berteriak. Ibu Nirasih, pemilik penambangan batu kapur, percaya bahwa kejadian itu adalah akibat dari dia mandi menjelang magrib di sungai itu.

Kearifan lokal yang dikembangkan warga ini tentu sangat berpengaruh untuk kelestarian potensi kawasan, termasuk kelestarian fauna owa jawa yang berhabitat disana. Menurut warga disana, gunung cibodas ini –mereka menyebutnya gunung Cibungbulang- keramat karena mereka mengetahui beberpa cerita mistis yang berkaitan dengan gunung ini. Menurut ibu Ani, monyet-monyet yang ada di gunung ini adalah jelmaan dari orang-orang kerajaan terdahulu. Beliau menambahkan bahwa dulu pernah ada seorang tentara yang menembak monyet di gunung ini, kemudian pada saat malam tentara tersebut dikpeung oleh ribuan monyet yang akhirnya tentara tersebut dibawa ke gunung ini. Cerita ini tentu sangat mempengaruhi perilaku warga sehingga warga disana tidak mau mngambil bahkan menggannggu monyet-monyet tersebut. Mitos lain yang berkembang disana juga adalah bahwa orang yang menggantungkan hidup dari gunung cibodas ini, maka meninggalnya orang tersebut kembali ke gunung ini.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa gunung cibodas ini sarat akan potensi lingkungan yang bermanfaat bagi kehidupan warga disekitarnya. Adapun, mitos yang menjadi kearifan lokal disana adalah semata-mata untuk menjaga kelestarian alam gunung cibodas agar terus bisa dimanfaatkan oleh warga setempat.

Kondisi Umum

Kondisi lingkungan kawasan karst Gunung Kapur Cibodas Ciampea selama 30 tahun terakhir berdasarkan aspek sumber daya air telah terpengaruh baik akibat perubahan cuaca (curah hujan), maupun berkurangnya resapan dan tampungan air tanah akibat perubahan penutupan lahan karena aktivitas penambangan kapur. Perubahan pola hidup masyarakat yang sangat bergantung pada tambang kapur berbanding lurus dengan penutupan lahan sehingga berpengaruh terhadap debit air permukaan yang mengalir dari sungai kawasan karst ke wilayah hilirnya. Berdasarkan tinjauan terhadap kebijakan saat ini (legal review), terdapat restriksi (batasan) yang diakibatkan belum jelasnya regulasi teknis kawasan karst yang terdapat dalam UU Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Meskipun demikian terdapat banyak peluang hukum yang bisa dimanfaatkan berdasarkan regulasi yang sudah ada, baik UU, PP hingga Perda.

Degradasi lahan yang signifikan ini terlihat dengan semakin berkurangnya keanekaragaman hayati yang ada disana. Pada tahun 1950-an dikawasan ini hidup fauna seperti owa jawa, burung kakatua, monyet ekor panjang, lutung, ular, kelelawar, burung walet dan berbagai jenis burung lainnya. Namun sekarang fauna-fauna tersebut banyak yang menghilang. Hanya tersisa monyet ekor panjang, kelelawar dan burung walet saja yang dapat dijumpai di kawasan tersebut (Fauzi, 2007). Kondisi serupa ditemukan juga oleh Lawalata IPB. Ditambah lagi goa dan sumber air bawah tanah yang mulai berkurang debit air dan keberadaannya karena tertimbun oleh sisa-sisa penambangan batu kapur yang telah menutup mata air yang disebut Cipanas ini.

Dari hasil penelusuran kawasan Karst Gunung Kapur Cibodas, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor banyak ditemukan degradasi kawasan yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas penambangan yang dilakukan secara besar-besaran. Menurut salah satu tokoh masyarakat di sana, sebenarnya aktivitas penambangan dari dulu sudah dilakukan oleh masyarakat Desa Ciampea secara tradisional dengan menggunakan alat sederhana seperti linggis, ketrek, dll. Kerusakan pada saat itu tidak terlalu besar. Setelah perusahaaan besar mulai masuk ke desa tersebut, penambangan kapur dilakukan tidak lagi dengan peralatan sederhana, tetapi dengan menggunakan  bahan peledak hingga alat berat. Hal inilah yang menyebabkan degradasi kawasan ini berlangsung sangat cepat. Ditambah lagi pihak penambang yang tidak melakukan rehabilitasi kawasan sesuai aturan penambang Galian C.

Berdasarkan tinjauan terhadap kebijakan saat ini (legal review), terdapat restriksi (batasan) yang diakibatkan belum jelasnya regulasi teknis kawasan karst yang terdapat dalam UU Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Meskipun demikian terdapat banyak peluang hukum yang bisa dimanfaatkan berdasarkan regulasi yang sudah ada, baik UU, PP hingga Perda. Degradasi lahan yang signifikan ini terlihat dengan semakin berkurangnya keanekaragaman hayati yang ada disana.

Pada tahun 1950-an dikawasan ini hidup fauna seperti owa jawa, burung kakatua, monyet ekor panjang, lutung, ular, kelelawar, burung walet dan berbagai jenis burung lainnya. Namun sekarang fauna-fauna tersebut banyak yang menghilang. Hanya tersisa monyet ekor panjang, kelelawar dan burung walet saja yang dapat dijumpai di kawasan tersebut (Fauzi, 2007). Kondisi serupa ditemukan juga oleh Lawalata IPB. Ditambah lagi goa dan sumber air bawah tanah yang mulai berkurang debit air dan keberadaannya karena tertimbun oleh sisa-sisa penambangan batu kapur yang telah menutup mata air yang disebut Cipanas ini.

Sebaran karts dan potensi kawasan

M.Riza Febriano/L-293
Ketua Umum 2009/2010